Ads 468x60px

Jumat, 16 November 2012

ekosistem dan jaring-jaring makanan

Jaring-jaring makanan adalah kumpulan beberapa rantai makanan dalam suatu ekosistem yang saling berhubungan dan menyatu. Lalu, apa yang dimaksud dengan ekosistem? Sebelum menjelaskan definisi ekosistem, ada baiknya Anda mengetahui awal mula terbentuknya ekosistem. 

Pembentukan Ekosistem

Pada suatu daerah, populasi yang satu dengan populasi yang lain akan berinteraksi membentuk komunitas. Hubungan antara komunitas mahluk dengan lingkungannya akan membentuk ekosistem. Ekosistem-ekosistem yang ada akan berkumpul membentuk biosfer. Jadi, ekosistem adalah satu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, termasuk jaring-jaring makanan.
ekosistem dan jaring-jaring makanan

Ekosistem dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alami merupakan ekosistem yang dalam proses terbentuknya tanpa ada campur tangan manusia atau alami, seperti ekosistem gurun dan ekosistem hutan hujan tropis. Sementara, ekosistem buatan adalah ekosistem yang terbentuk karena adanya campur tangan manusia, contohnya sawah, kebun, waduk, dan akuarium.
Ekosistem terdiri atas kumpulan tumbuhan dan hewan yang saling berinteraksi. Interaksi yang terjadi menghasilkan proses makan dan dimakan yang akan membentuk rantai makanan. Rantai makanan merupakan perpindahan energi makanan dari sumber tumbuhan melalui organisme atau jenjang makanan.
Rantai makanan memiliki dua tipe dasar. Pertama, rantai makanan yang berasal dari rumput-rumputan. Kedua, rantai makanan dari sisa (detritus food chain) mikroorganisme.
Para ahli ekologi membedakan rantai makanan menjadi beberapa golongan, yaitu sebagai berikut.

1. Rantai Pemangsa

Pada golongan ini, rantai makanan dimulai dari tumbuhan dimakan oleh mahluk herbivora (konsumen 1), konsumen 1 dimakan oleh konsumen 2 (karnivora), konsumen 2 selanjutnya akan dimakan oleh omnivora (konsumen 3).

2. Rantai Parasit

Rantai makanan ini dimulai oleh organisme yang lebih besar dimangsa oleh organisme yang hidup sebagai parasit, contohnya adalah cacing, bakteri, dan benalu.

3. Rantai Saprofit

Skema rantai saprofit adalah organisme mati (dimakan) jasad pengurai.

Peran Produsen, Konsumen, dan Dekomposer dalam Ekosistem

Dalam sebuah ekosistem, semua makhluk memiliki peranan penting. Ada yang berperan sebagai produsen, konsumen, maupun dekomposer.  Produsen merupakan penyedia bahan makanan bagi mahluk hidup yang nantinya makanan ini akan dimakan oleh konsumen 1 dan konsumen 3.
Konsumen adalah pemangsa produsen. Produsen terdiri atas mahluk hidup autotrof, artinya mahluk yang dapat memproduksi makanannya sendiri dengan bantuan sinar matahari dan klorofil. Konsumen bisa dibedakan menjadi konsumen 1, 2,3, dan seterusnya berdasarkan tingkatannya.  Namun, semuanya saling berhubungan secara langsung maupun tidak langsung.
Ada konsumen yang mendapatkan makanannya secara langsung dari produsen. Namun, ada juga yang mendapatkan makanan secara tidak langsung dengan memangsa konsumen lainnya.
Hewan herbivora merupakan konsumen 1 (memakan tumbuhan), hewan karnivora akan memakan hewan herbivora (konsumen 2), sementara mahluk herbivora akan memakan hewan karnivora dan produsen. Lewat siklus rantai makanan, dapat kita pahami bahwa semuanya saling terkait. Apabila satu komponen hilang, keseimbangan akan terganggu.
Rantai makanan dalam sebuah ekosistem tidak berbentuk linear, melainkan lingkaran membentuk jaring-jaring makanan yang saling berhubungan. Dekomposer atau pengurai dipegang oleh organisme yang bersifat saprofit, yaitu bakteri pengurai dan jamur saproba.  Dekomposerlah yang memegang peranan hingga rantai makanan berhubungan membentuk jaring-jaring makanan.
Dekomposer menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman melalui proses penguraian jasad hewan serta tumbuhan yang mati dan membusuk. Proses penguraian mahluk yang telah mati menjadi unsur hara menghasilkan gas karbondioksida yang dibutuhkan tanaman untuk proses fotosintesis.
Dalam sebuah ekosistem, dikenal adanya proses sirkulasi materi, transformasi, akumulasi materi lewat organisme, dan akumulasi energi. Pada sebuah ekosistem, keluar-masuknya energi dan materi bertujuan agar organisasi dan fungsinya tidak berubah.
Zat-zat anorganik yang terdapat di dalamnya tetap seimbang dan konstan. Hal ini karena di dalam biosfer peredaran unsur-unsur kimia esensial pembentuk protoplasma terjadi melalui siklus biogeokimiawi.  Yang termasuk ke dalam siklus biogeokimiawi adalah siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, siklus sulfur, dan siklus fosfor. Oleh karena itu, keseimbangan ekosistem harus dijaga.
Apabila komponen-komponen penyusun ekosistem rusak atau terganggu, akan berakibat pada terganggunya keseimbangan ekosistem. Keseimbangan ekosistem dapat terganggu karena adanya bencana alam, pembabatan hutan, perburuan liar, pencemaran dan letusan gunung berapi.

Gangguan pada Ekosistem

Jaring-jaring makanan di setiap ekosistem berbeda-beda karena mahluk hidup dan biotanya berbeda. Setiap gangguan yang muncul dalam suatu ekosistem yang diakibatkan hilangnya satu atau lebih rantai makanan akan berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan.
Contoh terganggunya keseimbangan lingkungan adalah peristiwa ledakan populasi tomcat di Surabaya beberapa waktu lalu.      Terjadinya ledakan tomcat dapat disebabkan oleh hilangnya salah satu bagian dari jaring-jaring makanan. Dalam hal ini, terganggunya jaring-jaring makanan disebabkan oleh pembabatan besar-besaran hutan Wonorejo untuk pembangunan apartemen.
Pembabatan hutan tersebut mengakibatkan hewan predator serangga tomcat, yaitu tokek yang banyak berdiam di hutan bermigrasi ke rumah-rumah penduduk. Akibatnya, secara otomatis populasi tomcat meledak karena tidak ada pemangsanya.
Tomcat yang merupakan predator wereng akhirnya bermigrasi ke rumah-rumah penduduk yang diwarnai dengan cahaya lampu. Hal ini terjadi karena sawah tempat serangga wereng tinggal telah banyak yang hilang karena pembanguan perumahan dan pertokoan.
Bisa Anda pahami bukan? Terganggunya salah satu komponen jaring-jaring makanan dapat berdampak luas pada keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup manusia tentunya.
Hal ini didukung oleh pernyataan Manager Foksi Jatim, Indra Harsaputra, di Surabaya. Ia menyatakan bahwa rusaknya habitat serangan tomcat disebabkan oleh perubahan rantai makanan di alam.
Menurut Indra Harsaputra, Maret 2012 merupakan puncak produktivitas wereng yang merupakan predator tomcat. Di sisi, lain tokek yang merupakan predator tomcat populasinya berkurang diburu oleh manusia. 
Menurut data Pengendali Ekosistem Hutan Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo, kuota tokek hasil tangkapan di alam mencapai 50 ribu ekor. Hal ini membuat pemerintah kota perlu turun tangan untuk menertibkan perburuan tokek liar tersebut. Tujuannya agar jaring-jaring makanan pada ekosistem sawah tidak terganggu keseimbangannya.
Menjaga keseimbangan jaring-jaring makanan sama dengan menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup.

Ekosistem Sawah

Sawah merupakan ekosistem buatan manusia. Manusia berperan penting dalam struktur, komponen, dan pengaturan sawah. Sawah terdiri atas faktor biotik dan abiotik. Yang termasuk ke dalam faktor biotik sawah adalah padi, tanaman sekunder, hewan, dan tanaman liar.

1. Padi

Padi merupakan produsen utama dalam ekosistem sawah. Padi adalah tanaman utama yang selalu Anda jumpai di sawah.

2. Tanaman Sekunder

Selain menanam padi, umumnya para petani juga menanam tanaman lain yang memiliki umur panen lebih cepat atau bahkan lebih lama, seperti pepaya, cabai, sawi, dan kacang panjang yang umumnya ditanam di pinggir sawah. Tujuan peananaman sekunder adalah agar para petani tetap mendapatkan penghasilan selama menunggu tanaman padi panen.

3. Hewan

Sawah merupakan tempat berkumpulnya banyak hewan liar maupun peliharaan, seperti bebek, ikan, burung, wereng, ular, dan tikus.  Hewan dan tumbuhan yang ada di sawah berinteraksi membentuk rantai makanan dan jaring-jaring makanan.

4. Tanaman Liar

Selain tanaman padi dan tanaman sekunder, dalam ekosistem sawah juga terdapat banyak tanaman yang tumbuh liar, dalam hal ini adalah gulma. Selain faktor biotik, terdapat faktor abiotik dalam ekosistem sawah, contohnya adalah air, cahaya matahari, ketinggian, dan suhu.
Di bawah ini adalah rangkaian jaring-jaring makanan pada ekosistem sawah.
  • Padi (produsen) dimakan oleh wereng (konsumen 1).
  • Wereng (konsumen 1) dimakan oleh tomcat (konsumen 2), tomcat dimakan oleh tokek (konsumen 3), tokek dimakan oleh elang dan jasad pengurai (konsumen 4).
  • Elang (konsumen 4) makan ular, tikus, dan tokek (konsumen3), ular makan katak (konsumen 2), katak makan belalang. (konsumen 1), belalang makan tanaman padi (produsen)
  • Elang makan tikus (konsumen 1), tikus makan padi (produsen).
  • Elang mati dimakan oleh dekomposer.
Demikianlah bahasan mengenai ekosistem dan jaring-jaring makanan. Semoga informasi ini bermanfaat dan mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

1 komentar:

les privat prisma mengatakan...

ok sob makasih artikelnya

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya

I am a simple student who likes blogging, hopefully this blog's presence brings benefits to all of you.
From the desk of the laptop, I greet you all .. Happy blogging!